Sabtu, 22 Mei 2010

ANALISIS KEPRIBADIAN MENURUT TEORI ADLER

Teori Adler dapat dipahami lewat pengertian pokok yang dipergunakannya untuk membahas kepribadian. Adler memberi tekanan kepada pentingnya sifat khas kepribadian yaitu individualitas kebulatan serta sifat-sifat pribadi manusia, menurutnya setiap orang adalah suatu konfigurasi motif-motif, serta nilai-nilai yang khas. Tiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang membawakan corak khas gaya kehidupannya yang bersifat individual.
Adler yakin bahwa individu memulai hidup dengan kelemahan fisik yang mengaktifkan perasaan inferior, perasaan yang menggerakkan orang untuk bergerak atau berjuang menjadi superioritas atau menjadi sukses. Individu yang secara psikologis kurang sehat berjuang untuk menjadi pribadi superior, dan individu yang sehat termotivasi untuk mensukseskan umat manusia.
Melalui penjelasan yang dikemukakan diatas oleh Adler, saya merasa sesuai dengan kepribadian saya. Dimulai dari analisis individu sebagai sifat khas (unik), sifat saya adalah sensitif, tidak teguh pendirian, dan manja. Tentu saja sifat khas saya ini tidak dimiliki secara persis oleh orang lain karena tiap individu adalah berbeda. Adler memilih psikologi individu (individual psychology) dengan harapan dapat menekankan keyakinannya bahwa setiap manusia itu unik dan tidak dapat dipecah-pecahkan. Psikologi individual menekankan pentingnya unitas kepribadian. Pikiran, perasaan, dan kegiatan semuanya diarahkan kesatu tujuan tunggal dan mengejar satu tujuan.
Saya adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Menurut teori Kepribadian Urutan Kelahiran Adler, Anak bungsu, seringkali dimanja, sehingga beresiko tinggi menjadi anak bermasalah. Mudah terdorong pada perasaan inferior yang kuat dan tidak mampu berdiri sendiri. Namun demikian ia mempunyai banyak keuntungan, ia termotivasi untuk selalu mengungguli kakak-kakaknya dan menjadi anak yang ambisius. Memang dalam kenyataannya, saya merasa sangat tergantung pada orang lain khususnya orangtua. Apa pun yang saya lakukan seakan tidak dapat terselesaikan tanpa campur tangan orangtua. Perasaan takut gagal, dan tidak suka akan tantangan.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu. Saya dapat mencontoh dari orangtua saya, terutama Mama. Mama juga anak bungsu dari 6 bersaudara. Tetapi apa yang saya rasa tentang kemampuan saya sungguh berbalik dengan apa yang saya lihat dari sosok Mama. Perempuan tegar yang selalu siap dalam 24 jam. Tidak ada perasaan pamrih sedikitpun yang terlihat dalam setiap perilakunya. Mulai dari situ saya belajar untuk melawan segala kekurangan saya agar menjadi kelebihan. Hingga kini saya sebagai mahasiswa, di dalam prosesnya apabila saya memiliki kekurangan di bidang A maka saya berusaha lebih di bidang B. Sebagai contoh, saya gagal masuk ke Fakultas Kedokteran sesuai harapan Papa untuk meneruskan beliau. Tetapi, di Fakultas Psikologi sekarang saya mampu membuktikan dengan IP yang baik dan juga juara penelitian. Target saya ke depan ingin masuk bidang klinis dan menjadi Psikolog ahli jiwa. Dari situlah saya dapat menyamai posisi dokter dalam mensejahterakan pasiennya walaupun dalam bidang yang berbeda.
Sesuai dengan pendapat Adler bahwa rasa rendah diri itu bukanlah suatu pertanda ketidak normalan, melainkan justru merupakan pendorong bagi segala perbaikan dalam kehidupan manusia. Tentu saja dapat juga rasa rendah diri itu berlebihan sehingga manifestasinya juga tidak normal, misalnya timbulnya kompleks rendah diri atau kompleks untuk superior. Tetapi dalam keadaan normal rasa rendah diri itu merupakan pendorong kearah kemajuan atau kesempurnaan (superior).
Kepribadian saya juga tidak dapat terlepas dari gaya hidup yang telah tertanam sejak kecil. Yang menurut Adler, melalui konsep gaya hidup, dijelaskan keunikan manusia. Saya terlahir dari keluarga yang cukup, tetapi Mama selalu mengajarkan agar saya selalu hidup sederhana dan tidak berfoya-foya. Karena uang tidak akan dibawa di akhirat. Dan janganlah selalu merasa tinggi karena sesungguhnya banyak orang yang lebih tinggi. Dan juga janganlah selalu merasa rendah karena sesungguhnya juga banyak orang yang kurang beruntung. Hal itu yang selalu Mama tekankan pada diri saya yang selalu tertanam dalam keseharian saya.
Setiap manusia memiliki tujuan, perasaan inferior, berjuang menjadi superior dan dapat mewarnai atau tidak mewarnai usaha mencapai superioritasnya itu dengan minat sosial. Akan tetapi, setiap manusia melakukannya dengan cara yang berbeda. Dapat dilihat dari cita-cita tiap orang yang berbeda dan ditempuh juga dengan cara yang berbeda-beda pula. Dari situlah, orangtua saya selalu mengajarkan untuk berusaha dan berdoa. Selanjutnya serahkan kepada Allah. Gaya hidup merupakan cara unik dari setiap orang dalam mencapai tujuan khusus yang telah ditentukan dalam lingkungan hidup tertentu, di tempat orang tersebut berada. Gaya hidup berdasarkan atas makna yang seseorang berikan mengenai kehidupannya atau interpretasi unik seseorang mengenai inferioritasnya, setiap orang akan mengatur kehidupannya masing-masing unuk mencapai tujuan akhirnya dan mereka berjuang untuk mencapai hal tersebut.
Gaya hidup terbentuk pada usia 4-5 tahun dan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intrinsik (hereditas) dan lingkungan objektif, melainkan dibentuk oleh persepsi dan interpretasinya mengenai kedua hal tersebut. Seorang anak tidak memandang suatu situasi sebagaimana adanya, melainkan dipengaruhi oleh prasangka dan minatnya dirinya. Maka dari itu, tidak mungkin gaya hidup itu tercipta hanya dikarenakan amanat orangtua tanpa ada persetujuan dalam dirinya sendiri. Oleh karena itu, kepribadian saya yang tercipta sekarang adalah buah dari bimbingan orangtua khususnya Mama yang menjadi panutan saya dan keinginan dari dalam diri saya sendiri agar menjadi anak yang dapat membahagiakan orangtua beserta masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar